Tugas Utama Bagi Seorang Ayah

05 Feb 2024 • 143 pembaca


Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

SEJATINYA, tugas utama seorang ayah terhadap anak-anaknya, sebagaimana yang Luqman Al-Hakim ajarkan dalam surat Luqman ayat 13-17 adalah:

Pertama, menanamkan nilai tauhid. Bahwa, hanya ada satu sembahan yang wajib kita sembah yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala titah-Nya adalah mutlak dan kita sebagai hamba-Nya tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang diberikan-Nya.

Kedua, jauhkan anak dari kemusyrikan. Anak tidak boleh sampai terbujuk atau menuruti siapa pun dan apa pun yang menyuruh atau membujuknya untuk menduakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam apa pun persoalan kehidupan yang dihadapinya. Bahkan, bila yang menyuruh hal tersebut adalah kedua orangtuanya.

Ketiga, mendisiplinkan anak terhadap syariat Allah Ta’ala. Bahkan, targetkan anak sebagai agent of sharia, yang ikhlas dalam mengajak pada kebaikan dan berani mencegah kemunkaran.

Dalam menjalankan tiga tugas utama ini, seorang ayah harus tahu betul langkah-langkah apa yang diambilnya. Karena, setiap langkah yang diambil dan setiap sikap yang dicontohkan olehnya akan menjadikan anak menjadi salah satu dari empat jenis anak yang nantinya akan dihadapi olehnya sendiri. Baik dalam lingkup tanggung jawab dunia akhirat, maupun dari keseharian hidup, dan seperti apa nantinya kepribadian si anak ketika dewasa nanti.

Ada pun empat jenis anak di dalam Alquran adalah:

Pertama, anak sebagai fitnah. Anak adalah ujian tersendiri bagi kedua orang tua. Hadir atau tidak hadirnya si buah hati dalam sebuah rumah tangga, sejatinya menjadi ujian yang sama berat. Saat si buah hati tak kunjung hadir, maka hal itu menjadi ujian kesabaran dan ketawakalan sepasang suami istri. Akan tetapi, ketika anak hadir, maka ujian yang tak kalah berat terus menerus akan menghiasi keseharian orangtua. Di samping kebahagiaan yang juga tak putus. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 28:

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Kisah-kisah para Nabi dan Rasul, juga orang-orang saleh yang mendapatkan ujian lewat anak-anak mereka; kiranya dapat menjadi teladan, bagaimana kita bisa dapat dengan baik mendidik anak-anak hingga menjadi generasi yang saleh.

Kedua, anak sebagai perhiasan. Anak tipe ini diperlakukan oleh orangmtuanya dengan selalu dipakaikan baju bagus, dibelikan mainan bagus, diberi gadget mahal, disekolahkan di lembaga popular – yang meskipun tentu sesuai dengan minat dan bakat anak; semata sebagai alat pamer. Anak dijadikan perhiasan bagi hatinya. Padahal anak juga belum tentu paham – bahkan orang tuanya sendiri belum tentu paham apa esensi dari semua yang mereka lakukan untuk anaknya. Selain untuk memamerkan apa yang mereka miliki dan memuaskan ego. Sungguh, anak dan harta adalah permainan dan perhiasan yang kapan pun dapat tamat dan lenyap dalam sekejap.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Al-Hadid ayat 20:

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Ketiga, anak sebagai musuh. Ini adalah jenis yang paling ekstrem dalam hubungan anak dan orang tua dan yang paling tidak diinginkan siapa pun. Namun, jenis anak yang seperti ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Juga beberapa dalam hubungan anak-orangtua para Nabi.

Anak jenis ini biasanya akan menjadi penghalang kedua orang tuanya berbuat baik dan mengerjakan ibadah. Sekaligus menjadi pangkal keresahan dan kesedihan kedua orang tuanya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengupayakan cara didik terbaik sedari kecil, sehingga anak ketika dewasa tidak menjadi sebab berbagai kesedihan dan penentangan syariah.

Mengenai anak yang menjadi musuh bagi orangtuanya ini, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Ath-Taghabun ayat 14:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Keempat, anak sebagai qurrata ‘ayun atau penyejuk mata kedua orang tuanya. Ini adalah kondisi anak yang paling didambakan oleh orang tua mana pun. Cara mendapatkan anak dambaan ini adalah dengan menanamkan tauhid sedari ia masih kecil.

Didiklah ia untuk mencintai Allah, Rasul-Nya, dan syariah Islam dengan cara yang disukai dan dimengerti olehnya. Hadirkan suasana untuk mengenal dan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Hadirkan pula hal-hal yang akan mendukung tumbuhnya rasa cinta tersebut sedari mereka belia. Misalnya untuk membuat anak mau mencintai jilbab, berikanlah contoh berjilbab yang baik, nyaman, dan indah. Sehingga dalam pandangan anak, jilbab adalah sesuatu yang menyenangkan dan nyaman. Ingatlah hal konkret adalah tangga untuk membuat anak memahami hal yang abstrak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 24:

أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا

“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.”

Semoga Allah Ta’ala mengaruniai kita anak-anak yang taat pada Allah dan Rasul-Nya serta berbakti pada kita sebagai orang tuanya hingga kita tak perlu khawatir apa yang akan mereka sembah setelah kita wafat. “Rabbanaa hablana min azwaajinaa wa dzurriyyaatina qurrata a’yuniw waj’alnaa lil muttaqiina imaama”.*

 

Sumber: https://bachtiarnasir.com/parenting/tugas-utama-seorang-ayah/

Bagikan ke orang baik lainnya