Berdoa Tapi Merasa Tidak Dikabulkan

07 Mar 2024 • 161 pembaca


Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

 

SEBAGAI orang beriman kita perlu memahami hakikat kehidupan ini sebagaimana yang dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alquran:

 

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرً‌ا

 

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Surat Al-Insan [76]: 2).

 

Ayat di atas menegaskan kepada kita bahwa kehidupan ini adalah ujian bagi manusia. Apakah ia akan tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau sebaliknya malah membangkang dan mengingkari perintah-Nya.

 

Dan khusus untuk orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam Alquran bahwa ia pasti akan menguji para hamba-Nya yang mengaku beriman.:

 

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَ‌كُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surat Al-Ankabut [29]: 2).

 

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّ‌اءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّ‌سُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ‌ اللَّـهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ‌ اللَّـهِ قَرِ‌يبٌ

 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Surat al-Baqarah [2]: 214).

 

Bahkan dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih memperjelas lagi  bahwa ia pasti akan menguji kita dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurang harta, jiwa dan buah-buahan.

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَ‌اتِ ۗ وَبَشِّرِ‌ الصَّابِرِ‌ينَ

 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Surat al-Baqarah [2]: 155).

 

Maka jangan sekali-kali kita mengira bahwa begitu kita bertobat dan melakukan segala macam amal ibadah secara otomatis kita akan mendapatkan segala kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, segala bencana dan kesusahan akan diangkat dari kita dan kita akan hidup penuh kesenangan. Bahkan mungkin yang terjadi adalah datangnya ujian dan cobaan baru untuk menguji apakah seseorang betul-betul taubat dan beramal karena Allah Subhanahu wa Ta’ala atau karena yang lainnya.

 

Ketika sudah memahami hal itu dan meyakini bahwa orang-orang beriman pasti akan mengalami ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa a’ala dan ujian itu bisa berupa nikmat dan bisa juga berupa musibah maka hati kita akan tenang dan menerima semua itu. Bukan dalam artian fatalistik, menerima kemudian tidak berusaha sama sekali, tetapi ridha dengan segala ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah berusaha sesuai kemampuannya.

 

Sehingga kemudian Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik (al-hayah al-thayyibah) dalam Alquran itu adalah kehidupan hati, nikmat dan kegembiraan hati karena iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal-Nya, mencintai-Nya, bertaubat dan bertawakkal kepada-Nya. Sesungguhnya tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan hati yang seperti itu, dan tidak ada kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan hati itu kecuali nikmat surga.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ‌ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَ‌هُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-Nahl [16]: 97).

 

Ibrahim bin Adham seorang tabi’in yang sangat zuhud mengatakan kepada orang-orang dekatnya, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui kebahagian dan kegembiraan yang kita rasakan maka mereka akan berusaha merebutnya dari kita dengan pedang.

 

Sedangkan untuk orang-orang kafir dan orang yang selalu berbuat maksiat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan keadaannya di dunia ini.

 

وَمَنْ أَعْرَ‌ضَ عَن ذِكْرِ‌ي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُ‌هُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

 

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Surar Thaha [20]: 124).

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu tidak akan pernah merasakan ketenangan hati dalam hidupnya. Tetapi selalu berada dalam kegelisahan, kebingungan dan keraguan meskipun secara lahirnya terlihat menikmati hidup, makan apa yang ia mau, memakai pakaian yang ia suka dan pergi kemana ia hendak pergi.

 

Syarat Dikabulkan

 

Dan dalam masalah doa ada dua hal penting yang mesti kita perhatikan. Pertama, adalah suatu kesalahan jika kita mengira bahwa begitu kita berdoa maka lansung dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena doa itu ada syarat-syaratnya agar dikabulkan oleh Allah Ta’ala, seperti ikhlas dalam berdoa, bersungguh-sungguh dalam berdoa, bertawassul dengan asmaul husna. Dan ada halangan untuk dikabulkannya doa kita seperti memakan harta haram, tidak bersungguh-sungguh dalam doa dan tergesa-gesa dalam berdoa. Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi waallam dijelaskan:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ : دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

 

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan dikabulkan do’a salah seorang diantara kalian selama ia tidak tergesa-gesa (dalam do’anya), yaitu dengan berkata: “Saya telah berdo’a, tapi belum juga dikabulkan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

 

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ” ، قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الِاسْتِعْجَالُ ؟ ، قَالَ يَقُولُ : ” قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي ، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

 

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa dikabulkan do’a seorang hamba selama ia tidak berdo’a dalam perkara dosa atau dalam rangka memutus hubungan silaturrahim, serta tidak tergesa-gesa.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya tergesa-gesa (dalam do’a) itu?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang berdo’a itu berkata: ‘Saya sudah berdo’a dan berdo’a, tapi belum juga dikabulkan.’ Kemudian ia jenuh untuk berdo’a dan akhirnya meninggalkan do’a (tidak lagi berdo’a).”

 

Kedua, adalah suatu kesalahan jika kita mengira bahwa bentuk dikabulkannya doa itu hanya dengan direalisasikannya apa yang kita dalam doa-doa kita. Karena bentuk dikabulkannya doa kita ada tiga, yaitu terealisasikannya apa yang kita minta dalam doa kita, dihindarkannya kita dari keburukan yang setimpal dengan doa kita atau Allah menyimpankannya untuk kita sebagai amal ibadah yang akan dibalas dengan berlipatganda di hari kiamat nanti.

 

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dijelaskan:

 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا ، قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ؟ قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ

 

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturrahim melainkan Allah berikan kepadanya salah satu dari yang tiga, yaitu disegerakan sesuai dengan apa yang dia minta, atau Allah simpankan untuknya di akhirat nanti atau Allah palingkan kejahatan darinya setimpl dengan apa yang dia minta. Maka para sahabat berkata, “kalau begitu kami akan memperbanyak doa.’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Penerimaan Allah lebih banyak lagi.” (Riwayat Ahmad dan Hakim).

 

Sebagai seorang mukmin kita harus selalu merasa bahwa ibadah yang kita lakukan masih kurang sehingga hal itu memberi kesadaran kepada kita bahwa hal itu membuat kita menjadi hamba yang belum pantas dikabulkan doanya sehingga kita terus berusaha memperbaiki amal ibadah kita. Janganlah kita merasa sudah melakukan amal ibadah yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membuat kita menganggap bahwa doa-doa kita seharusnya dikabulkan Allah. Sehingga ketika kita merasa doa-doa kita tidak dikabulkan kita menjadi berputus asa. Wallahu a’lam bish shawab.*

 

Sumber: https://bachtiarnasir.com/tadabbur/berdoa-tapi-merasa-tidak-dikabulkan/

Bagikan ke orang baik lainnya