Tiga Ibadah Penting Penyelamat Manusia

20 Feb 2024 • 108 pembaca


Oleh:

KH. Bachtiar Nasir

 

 

SAUDARAKU seiman, jangan sampai hari-hari begitu saja berlalu, tetapi ketakwaan kita tak bertambah. Jangan sampai kita bertakwa kepada Allah sambil lalu, sementara untuk urusan dunia kita begitu bersungguh-sungguh bahkan tak kenal waktu. Yang paling tragis dalam dunia ini adalah kalau intensitas dunia masih lebih besar porsinya dari akhirat. Disinilah akan tumbuh benih-benih kemunafikan dan keingkaran terhadap hari kebangkitan yang pasti terjadi.

 

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

 

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Ankabut ayat 45).

 

Ada tiga ibadah besar bagi orang-orang ingin beruntung di dunia dan akhirat ini. Bagi orang-orang yang tidak ingin lelah dan tidak ingin dikacaukan oleh kehidupan dunia yang sementara ini, maka dia akan menjadi orang kaya yang sebenar-benarnya ketika ketiga ibadah besar di ayat ini dikerjakan dengan baik.

 

Pertama, bacalah Alquran setiap hari. Bukan haya membaca, tetapi juga menghapal, mentadabburi, dan mengamalkannya. Ada lima metodologi dalam mengimplementasikan Alquran yang saya lakukan selama ini:

 

a. Belajar Alquran

b. Mempelajari secara mendalam

c. Mengamalkannya

d. Mengambil pelajaran

e. Mengajarkan kepada orang lain.

 

Sebagaimana hadist Rasulullah Muhammad saw yang berasal dari Utsman bin Affan ra yang berkata,

 

عن عثمانَ بن عفانَ رضيَ اللَّه عنهُ قال : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ » رواه البخاري

 

“Bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari ilmu Alquran dan mengajarkannya’.” (Riwayat Bukhari).

 

Kedua, mendirikan shalat. Orang yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak mendirikan shalat biasanya kacau perjalanan hidupnya. Pola pikirnya berantakan. Perilakunya tidak tertata dengan baik. Ia seringkali menguntungkan orang kafir, tetapi menjadi musibah bagi orang-orang beriman. Pikiran mereka seringkali terombang-ambing dengan pola pikir yang menyesatkan. Sehingga mereka berpikir kebaikan ala pluralisme adalah jalan terbaik untuk menciptakan kedamaian. Padahal jelas dan nyata bahwa kedamaian dan kebaikan itu hanya akan tercipta manakala mengikuti perintah Allah dan teladan Rasul-Nya. Apa penyebabnya? Tak lain karena tauhid tidak menjadi dasar cara pandangnya; karena Alquran bukanlah panduan hidupnya.

 

Shalat yang didahului oleh tilawah Alquran akan mencegah yang keji (Al-Fahsya) dan mungkar. Yang disebut dengan al-Fahsya adalah sesuatu yang diagungkan oleh hawa nafsu kita. Apa yang dicari dengan nafsu yang ada dalam hidup kita? Tentu tidak jauh dari harta, tahta, dan wanita. Maraknya fenomena perceraian pasangan muslim di Indonesia, tidak lepas dari pengagungan hawa nafsu ini. Suami yang tidak bertanggung-jawab dan cenderung mengikuti nafsunya sendiri baik untuk mengejar harta, tahta, atau wanita; menjadi penyebab kronis perceraian di Indonesia.

 

Para suami tidak bisa mendidik istri dan anak-anaknya bahkan yang lebih parah adalah para suami yang tidak menceraikan istrinya tetapi juga tidak menggauli istrinya. Ini adalah suami-suami pengecut yang pastinya juga menelantarkan anak-anaknya. Kerja pergi pagi, pulang malam. Meeting bisnis sampai larut malam. Benarkah untuk ibadah? Apa yang kita perbanyak, tetapi tidak ada Allah di dalamnya, maka itu termasuk dengan “Alhakumuttakatsur”. Meskipun kita berdalih bahwa itu menyangkut maslahat untuk orang banya, tetapi jika bukan untuk Allah, tidak melibatkan Allah, dan melalaikan Allah, maka itu termasuk dengan apa yang dimaksud dalam surat At-Takatsur.

 

أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ

حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ

لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

 

“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu tidak akan melakukannya). Pasti kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). (Surat At-Takatsur ayat 1-8).

 

Mari kita pikirkan, apa yang dapat diterima oleh Allah di alam kubur? Apakah amalan-amalan yang kita perbuat “laku” di alam kubur? Mari kita evaluasi kembali apa yang kita lakukan. Tinjaulah kembali apakah amalan shalat kita menjauhkan dari fahsya wal mungkar?

 

Lalu apa itu kemungkaran? Perbuatan mungkar itu adalah maksiat yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia. Disinilah pentingnya seorang mu’min memiliki ilmu, sehingga dia tidak akan terjebak oleh doktrin kemanusiaan yang intinya menolak otoritas selain dirinya mengatur diri dan cara hidupnya. Hal ini jelas bertentangan dengan kehendak Allah Ta’ala yang menginginkan kita tunduk patuh pada aturan-Nya.

 

Ketiga, wala dzikrullahi akbar. Jika kita membuka Alquran dan mencari kata katsiran maka yang disifatinya adalah zikir. Jadi di dunia ini sebenarnya kita bukan disuruh banyak kerja, tetapi banyak zikir. Orang yang banyak zikir adalah orang yang bekerja dengan cerdas yang sebenarnya.

 

Banyak motivator yang mengatakan untuk kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, dan kerja tuntas. Cerdas disini masih dalam kacamata keduniaan saja. Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang bekerjanya melibatkan malaikat. Orang yang cerdas sesungguhnya adalah dia yang dalam bekerja banyak dilimpahi oleh keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Bagaimana cara kerjanya? Berzikirlah. Orang yang banyak beristighfar maka akan terbukalah pintu-pintu kebaikan di depan matanya. Orang yang banyak bertasbih adalah orang yang mengambil kata yang paling mulia yang diajarkan oleh Allah Yang Maha Mulia. Sehebat-hebat zikir adalah shalat.

 

Sehebat-hebatnya ibadah adalah shalat. Dan, sehebat-sehebatnya shalat adalah apabila dengan shalat itu Allah selalu mengingat kita. Bekerjalah bersama Allah dan jadikanlah Allah tujuan di dalam apa yang kita kerjakan. Insyaallah, kita akan menjadi mereka yang beruntung dan tidak akan pernah kelelahan karena kita tidak diperbudak oleh dunia.*

 

 

Sumber: https://bachtiarnasir.com/tadzkirah/tiga-ibadah-penting-penyelamat-manusia/

Bagikan ke orang baik lainnya